Monday, April 28, 2014

Explore. Dream. Discover

Reblog from : http://bagusberlian.com/9-hal-yang-harusnya-mulai-dilakukan-di-usia-20-tahunan/

Usia 20 tahunan memang masa paling monumental dalam kehidupan kita. Seperti yang sebelumnya telah kita bahas dalam “7 Kesalahan yang Harusnya Tidak Dilakukan di Usia 20 Tahunan” dan “Menemukan Sejatinya Diri Kita di Usia 20 Tahunan”. Kali ini kita akan membahas apa saja yang mungkin bisa kita mulai untuk membuat Usia 20 tahunan kita sebagai masa yang monumental dan berpengaruh positif pada masa depan kita jauh kedepan.

1. Mulai Berdiri dengan Kaki Sendiri

Usia 20 tahunan adalah masa transisi yang cukup berat dalam zona kehidupan kita. Perpindahan masa dari era sekolahan ke dalam era karir menuntut kita untuk cepat beradaptasi dengan berbagai hal baru, salah satunya adalah kemandirian. Sudah bukan jamannya lagi bagi kita untuk terus-menerus meminta uang jajan dari orang tua. Berusahalah untuk hidup secara mandiri. Mulailah bekerja untuk membiasakan diri anda hidup dengan tidak bergantung pada orang lain. Meskipun penghasilan mungkin belum seberapa, toh itu adalah hasil kerja keras kita sendiri.

“Real man use three pedals??? No! Real Man pakai mobil yang dia beli dengan keringatnya sendiri.” – Bagus Berlian


Monday, April 21, 2014

Trailer - Stand By Me, Doraemon




Nonton trailernya aja udah bikin banjir air mata :) Doraemonnn :")

Real Life Domyouji

Udah pada tau dong ya Domyouji itu siapa. Yang gue bahas ini Domyouji di Hana Yori Dango - kalo belom nonton berarti kebangetan xD Jadi gak perlu lagi gue jelasin panjang lebar di sini. Yang jelas Domyouji itu... extremely rich (itu gue yakin 7 turunan pun gak bakal habis hartanya), terus karakternya : suka marah2 gak jelas, judes, jutek, violent and ill-tempered tapi kalo udah ketemu cewek yang dia suka setia banget duh :")


Yah, jadi semester ini punya temen baru gara-gara terdampar di satu kelas antah-berantah tanpa temen seangkatan. Untung ketemu dia yang seangkatan. Gue dan dia gak deket-deket amat. Just a normal friend lah. Bahkan komunikasi kalau seperlunya aja. Kalau ada tugas saja, I mean. Well, thank to tugas-tugas yang bisa membuat komunikasi ini terjadi xD

Gue awalnya gak tau backgroundnya dia, karakternya dia gimana, tapi makin ke sini makin keliatan kalo ada beberapa sifatnya yang menyerupai Domyouji. Iya. Terutama yang kalo ngomong suka seenak jidat dan extremely rich ini :") Can't ever believe a man like him ever exists!

Here's the convo :
Gue (G), Dia (D)

G : "....Padahal sendirinya juga pinter udah kerjain duluan."
D : "Hahaha. Gue kan kerja juga harus nyicil tugas yang numpuk kayak sampah nih haha."
G : "Kok keren :') Kerja di mana?"
D : "Kerja di perusahaan nyokap. Gantiin gitu."

Gue pikir dia itu keren gitu ya udah kerja sambil kuliah, which gue pikir dia kerjanya di mana gitu.. Eh ternyata perusahaan nyokapnya. Anjir. Gila. Macam Domyouji, pewaris Domyouji Zaibatsu

Another convo with him:

G : "Emangnya lu kemana sih ampe buku setebel gitu dibawa-bawa?"
D : "Ke Belanda coy. Ini gue lagi ngerjain di pesawat. Rajin kan gue *ROTFL*"

Gue speechless. Gilaak. 3 days of Easter holidays and he went to Netherland. He said "ke Belanda" so casually. As if he goes there like everydayyy MY GOD DOMYOUJI bangettt xD *padahal dalam hati iri setengah mati sama dia* Gue mau jalan-jalan ke luar kota Jakarta aja setengah mampus kerja keras nabungnya hehe :D Gue sama dia itu udah kayak langit sama bumi lah. Jauh banget :") Gak selevel kita.

Terus... ketika gue post tentang ini di Twitter, temen gue mention: "Ya siapa tau kamu mau jadi Tsukushi-nya." YA KELEUS. KAGAK BRO. KAGAK. Gue belum bisa menemukan hal spesial dari dia yang membuat gue mau dan harus jadi Tsukushi-nya dia (YA KECUALI KALO DIA ITU MATSUJUN, SIAPA YANG GAK MAU SIH? xD). Wait. Geli banget : "Tsukushi-nya dia" HAHAHA *stress banget ini sih gue*

Dari seluruh postingan ini gue keliatannya agak "materialistis" ya. HAHAHAHA. IYA. Gak munafik sih, dari dulu punya cita-cita pengen punya life partner yang istilahnya "lebih" lah secara materi. Punya cita-cita tinggi boleh dong ya *walau kelihatannya agak gak mungkin diraih* Jujur deh, mana bisa "hidup dengan cinta"? x)) bullshit banget yang bisa ngomong kayak gitu. Gue butuh life partner yang mapan bro, yang bisa menafkahi gue dan anak-anak gue nanti di masa depan baik dari segi materi maupun dari segi afeksi alias kasih sayang *cieeee* Ya intinya sekarang harus belajar memantaskan dirilah buat dapat life partner yang oke luar-dalam :)) AMIN saudara-saudara? Aminnnnn... *ngikik dalam hati waktu ngetik ini*

Udahan dulu ah post super gak penting ini -____- Maklumin aja deh ya, lagi stress banyak pikiran, jadinya cuma bisa mengkhayal aneh-aneh kayak gini. :))

Sunday, April 06, 2014

Definitely Needs Some Refreshment

I mean this blog. This blog. Really. Needs. Some. Refreshment.
Gue pikir blog ini kurang banget yang namanya foto :( Bukannya gak mau foto, tapi resolusi kamera kurang mendukung, jadinya ya males gitu kan hasilnya selalu - gak pernah never - jelek dan gak menarik (alasan aja in mah - HAHA >> kode juga ini sih : butuh hp baru, jujur saja). Beneran... lagi butuh android yang beneran dikit, yang kalo foto bagus, yang bisa cek e-mail setiap hari, yang bisa edit2 Ms. Word, notes, dll dengan mudah... Tapi lagi bokek. Alasan yang terlalu klise....

Anyway, lagi gak tau nih mau nge-blog apa. Sebenarnya banyak banget nih di pikiran yang mau ditumpahkan. Tapi karena terlalu banyak, sampai lupa mana yang mau ditulis duluan (lagi-lagi alasan). Jadi ya, sepertinya gue sudahi dulu deh postingan hari ini.

See ya!

[REBLOG POST] Mengapa Anak yang Pintar di Sekolah Bisa Alami Kesulitan Ekonomi?

The following post are not mine.
Credits to Rhenald Kasali @rhenaldkasali
Taken from : http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/04/03/0652365/Mengapa.Anak.yang.Pintar.di.Sekolah.Bisa.Alami.Kesulitan.Ekonomi.

Mengapa Anak yang Pintar di Sekolah Bisa Alami Kesulitan Ekonomi?

Seorang mahasiswi mengeluh. Dari SD hingga lulus S-1, ia selalu juara. Namun kini, di program S-2, ia begitu kesulitan menghadapi dosennya yang menyepelekannya. Judul tesisnya selalu ditolak tanpa alasan yang jelas. Kalau jadwal bertemu dibatalkan sepihak oleh dosen, ia sulit menerimanya.
Sementara itu, teman-temannya, yang cepat selesai, jago mencari celah. Ia menduga, teman-temannya yang tak sepintar dirinya itu "ada main" dengan dosen-dosennya. "Karena mereka tak sepintar aku," ujarnya.

Banyak orangtua yang belum menyadari, di balik nilai-nilai tinggi yang dicapai anak-anaknya semasa sekolah, mereka menyandang persoalan besar: kesombongan dan ketidakmampuan menghadapi kesulitan. Bila hal ini saja tak bisa diatasi, maka masa depan ekonominya pun akan sulit.  Mungkin inilah yang perlu dilakukan orangtua dan kaum muda: belajar menghadapi realitas dunia orang dewasa, yaitu kesulitan dan rintangan. 

Hadiah orangtua

Psikolog Stanford University, Carol Dweck, yang menulis temuan dari eksperimennya dalam buku The New Psychology of Success, menulis, "Hadiah terpenting dan terindah dari orangtua pada anak-anaknya adalah tantangan".

Ya, tantangan. Apakah itu kesulitan-kesulitan hidup, rasa frustrasi dalam memecahkan masalah, sampai kegagalan "membuka pintu", jatuh bangun di usia muda. Ini berbeda dengan pandangan banyak orangtua yang cepat-cepat ingin mengambil masalah yang dihadapi anak-anaknya.
Kesulitan belajar mereka biasanya kita atasi dengan mendatangkan guru-guru les, atau bahkan menyuap sekolah dan guru-gurunya. Bahkan, tak sedikit pejabat mengambil alih tanggung jawab anak-anaknya ketika menghadapi proses hukum karena kelalaian mereka di jalan raya. Kesalahan mereka membuat kita resah. Masalah mereka adalah masalah kita, bukan milik mereka. 

Termasuk di dalamnya adalah rasa bangga orangtua yang berlebihan ketika anak-anaknya mengalami kemudahan dalam belajar dibandingkan rekan-rekannya di sekolah.

Berkebalikan dengan pujian yang dibangga-banggakan, Dweck malah menganjurkan orangtua untuk mengucapkan kalimat seperti ini: "Maafkan Ibu telah membuat segala sesuatu terlalu gampang untukmu, Nak. Soal ini kurang menarik. Bagaimana kalau kita coba yang lebih menantang?"
Jadi, dari kecil, saran Dweck, anak-anak harus dibiasakan dibesarkan dalam alam yang menantang, bukan asal gampang atau digampangkan. Pujian boleh untuk menyemangati, bukan membuatnya selalu mudah.

Saya teringat masa-masa muda dan kanak-kanak saya yang hampir setiap saat menghadapi kesulitan dan tantangan. Kata reporter sebuah majalah, saya ini termasuk "bengal". Namun ibu saya bilang, saya kreatif. Kakak-kakak saya bilang saya bandel. Namun, otak saya bilang "selalu ada jalan keluar dari setiap kesulitan".
Begitu memasuki dunia dewasa, seorang anak akan melihat dunia yang jauh berbeda dengan masa kanak-kanak. Dunia orang dewasa, sejatinya, banyak keanehannya, tipu-tipunya. Hal gampang bisa dibuat menjadi sulit. Namun, otak saya selalu ingin membalikkannya. Demikianlah, hal-hal sepele sering dibuat orang menjadi masalah besar.
Banyak ilmuwan pintar, tetapi reaktif dan cepat tersinggung. Demikian pula kalau orang sudah senang, apa pun yang kita inginkan selalu bisa diberikan.

Panggung orang dewasa

Dunia orang dewasa itu adalah sebuah panggung besar denganunfair treatment yang menyakitkan bagi mereka yang dibesarkan dalam kemudahan dan alam yang protektif. Kemudahan-kemudahan yang didapat pada usia muda akan hilang begitu seseorang tamat SMU.

Di dunia kerja, keadaan yang lebih menyakitkan akan mungkin lebih banyak lagi ditemui. Fakta-fakta akan sangat mudah Anda temui bahwa tak semua orang, yang secara akademis hebat, mampu menjadi pejabat atau CEO. Jawabannya hanya satu: hidup seperti ini sungguh menantang.

Tantangan-tantangan itu tak boleh membuat seseorang cepat menyerah atau secara defensif menyatakan para pemenang itu "bodoh", tidak logis, tidak mengerti, dan lain sebagainya. Berkata bahwa hanya kitalah orang yang pintar, yang paling mengerti, hanya akan menunjukkan ketidakberdayaan belaka.  Dan pernyataan ini hanya keluar dari orang pintar yang miskin perspektif, dan kurang menghadapi ujian yang sesungguhnya.

Dalam banyak kesempatan, kita menyaksikan banyak orang-orang pintar menjadi tampak bodoh karena ia memang bodoh mengelola kesulitan. Ia hanya pandai berkelit atau ngoceh-ngoceh di belakang panggung, bersungut-sungut karena kini tak ada lagi orang dewasa yang mengambil alih kesulitan yang ia hadapi. 

Di Universitas Indonesia, saya membentuk mahasiswa-mahasiswa saya agar berani menghadapi tantangan dengan cara satu orang pergi ke satu negara tanpa ditemani satu orang pun agar berani menghadapi kesulitan, kesasar, ketinggalan pesawat, atau kehabisan uang.

Namun lagi-lagi orangtua sering mengintervensi mereka dengan mencarikan travel agent, memberikan paket tur, uang jajan dalam jumlah besar, menitipkan perjalanan pada teman di luar negeri, menyediakan penginapan yang aman, dan lain sebagainya. Padahal, anak-anak itu hanya butuh satu kesempatan: bagaimana menghadapi kesulitan dengan caranya sendiri.

Hidup yang indah adalah hidup dalam alam sebenarnya, yaitu alam yang penuh tantangan. Dan inilah esensi perekonomian abad ke-21: bergejolak, ketidakpastian, dan membuat manusia menghadapi ambiguitas. Namun dalam kondisi seperti itulah sesungguhnya manusia berpikir. Dan ketika kita berpikir, tampaklah pintu-pintu baru terbuka, saat pintu-pintu hafalan kita tertutup.

Jadi inilah yang mengakibatkan banyak sekali orang pintar sulit dalam menghadapi kesulitan. Maka dari itu, pesan Carol Dweck, dari apa yang saya renungi, sebenarnya sederhana saja: orangtua, jangan cepat-cepat merampas kesulitan yang dihadapi anak-anakmu. Sebaliknya, berilah mereka kesempatan untuk menghadapi tantangan dan kesulitan.

*******

Silakan dicerna dan direnungkan sendiri. Ini merupakan catatan penting bagi kita semua. Kalau menurut pandangan saya, intinya sih : jangan pernah takut untuk hidup susah, mengalami kesulitan, kegagalan, dll. karena justru dari kesulitan-kesulitan yang ada itulah kita belajar dan ditempa menjadi pribadi yang lebih tangguh dan lebih mampu mengatasi setiap persoalan yang ada. Pesan untuk para orang tua juga (or soon-to-be parents) : jangan terlalu memanjakan anak! Contoh simplenya sih jangan terlalu mudah ketika anaknya minta gadget atau apalah langsung dibeliin, tapi baiknya sih minta anak kita untuk kerja keras dulu, contoh : meminta anak untuk menabung atau sebagai reward/hasil kalau hasil rapor anak itu bagus. ;) Biarkan anak itu berproses, jatuh-bangun sendiri, dan menyelesaikan masalahnya sendiri.

Anyway, dari post ini saya jadi tertarik : traveling sendirian B) tahun depan sepertinya boleh dicoba nih ^^