Tuesday, May 27, 2014

[REBLOG POST] Write Down Your Goals

The following article is not mine
***

We hear a lot about the importance of goal-setting, but most of us don’t have clear and measurable goals to work towards. Even fewer of us actually have those goals written down. Lewis Carroll says, “any road will get you there, if you don’t know where you are going,” but how important are goals really and if they are vital, how can we make them most effective? There was a fascinating study conducted on the 1979 Harvard MBA program where graduate students were asked “have you set clear, written goals for your future and made plans to accomplish them?”  The result, only 3% had written goals and plans, 13% had goals but they weren’t in writing and 84% had no goals at all. Ten years later, the same group was interviewed again and the result was absolutely mind-blowing.

The 13% of the class who had goals, but did not write them down was earning twice the amount of the 84% who had no goals. The 3% who had written goals were earning, on average, ten times as much as the other 97% of the class combined! While this study only looks at earnings to quantify success, I still find it to be an extremely motivating example of why creating clear and measurable goals and writing them down is a key to success. Feeling motivated? Here are four steps to creating clear and measurable goals that will lead you to huge success.

Create a Vision
The first step to creating a goal is to figure out what you want. If you don’t know what you want, you don’t know what you need to achieve to get there.  This is actually the fun part. You get to dream. What do you really want to create for yourself? What does your ideal life look like? Don’t be afraid to think big. Take fifteen minutes and document your vision. Take note of the details. What does your day look like? Where are you living? Try to incorporate all senses in your vision to make it most effective. What do you see, hear, smell, taste and feel throughout this ideal day?

Make it Measurable
Take your vision and turn it into a written list of concrete goals. If in your ideal world you are working for yourself, one of your goals might be to start your own company. Choose an achievable time frame to accomplish your goals, as well as measurable details, so you know exactly when you’ve achieved them. What exactly does it mean to start your own company? Make sure to set yourself up for success by creating goals that are realistic and achievable in the given time-frame.

Set Benchmarks
Most of our goals are a build-up of small achievements, sometimes even years of many small successes. Break your goals into small actionable steps and assign realistic time frames to each. Continue to break big steps into smaller and smaller steps until goals seem less daunting and achievable. Benchmarks are a great way to keep you on track. You may find you are moving more quickly or slowly than you expected. That’s not a problem, you can adjust! Adjust your expectations and timeline as you gather more information while achieving your benchmarks.

Celebrate Your Success
I believe the most important part of goal-setting is celebrating our successes. How will you reward yourself for hitting your benchmarks along the way? How will you celebrate once you’ve reached your goal? As we journey to the realization of our goals, it’s important to remember our vision. Why we want something can provide us with the motivation and determination to continue to work toward it even when things don’t go as planned or are more difficult than we anticipated.

From now on, choose to be among the most successful people and write down your goals. Create a vision for what you want, turn that into a list of measurable goals, set benchmarks and celebrate your successes along the way.

By : Ashley Feinstein

Source:  What They Don’t Teach You in the Harvard Business School by Mark McCormack

To Ben I Shall Back

“The world is a book and those who do not travel read only one page.” – Augustine of Hippo

Dunia itu bagaikan buku dan mereka yang tidak berkelana hanyalah mereka yang membaca satu lembar halamannya. Quotes di atas adalah salah satu quotes favoritku. I am very interested in traveling, tapi sayang masih belum ada kesempatan; terutama dari segi finansial. Nah, karena aku belum bisa mewujudkan mimpiku untuk pergi traveling, aku punya satu cara praktis yang cukup jitu untuk mengatasi ke-desperate-an diriku dan betapa seringnya aku hanya bisa gigit jari saat melihat teman-temanku sudah bisa menuntut ilmu di negeri orang dan jalan-jalan melanglang buana.

Cara itu, tak lain tak bukan adalah…

Kartu pos.

What? So old-fashioned.


Iya. Kuno. Jadul memang kedengarannya. Di era teknologi yang super canggih seperti sekarang ini, aku masih saja hobi mengoleksi serta mengirimkan kartu pos ke random strangers all over the world via situs Postcrossing. Aku juga sering meminta teman-teman yang tinggal di luar negeri mengirimkan kartu pos khas negara mereka masing-masing.

Bagiku, postcard-lah yang membuatku bisa “menjelajahi” negara-negara di dunia (walau aku tahu hanya lewat gambar). Aku hobi mengoleksi postcard bertemakan UNESCO World Heritage Sites dan juga iconic places dari seluruh dunia. Lewat postcard aku jadi berani bermimpi untuk bisa benar-benar mengunjungi iconic places yang menjadi gambar di banyak postcard yang telah kukoleksi.

***

Saturday, May 17, 2014

United Kingdom : My (No Longer) Unrequited Love

“If you can dream it, you can do it.”

Kata-kata emas dari Walt Disney itu selalu menjadi semangat dan motivasi di dalam hidupku. Traveling around the world has always been my biggest obsession. Dari kecil, aku selalu berusaha belajar dengan giat supaya kelak bisa mendapat beasiswa studi di luar negeri. Namun hingga kini impian itu sama sekali belum bisa kuwujudkan. Yang bisa kulakukan hanyalah browsing foto-foto di Facebook milik teman-temanku, yang sudah terlebih dahulu bisa mencicipi pahit-manisnya hidup dan belajar di negara orang. Aku hanya bisa membayangkan bagaimana serunya menjelajahi negara lain, belajar budayanya dan bertemu orang-orang baru dari berbagai macam suku bangsa. In short, aku hanya bisa bermimpi. I’m just a dreamer – that is still struggling to achieve my dreams, no matter what it takes.

***

Ada satu negara yang membuatku jatuh cinta padanya.

Inggris.


Friday, May 16, 2014

Can I Tell You Something Crazy?

Can I tell you something crazy? Selama dua puluh tahun aku hidup, aku selalu bermimpi untuk bisa menjadi putri kerajaan dan menikah dengan pangeran berkuda putih. Well, silakan tertawa sepuasnya deh. Karena mimpiku yang satu ini memang konyol. But I think, it's every girl's dream to be a princess.

Oh ya, perkenalkan dulu, namaku Diana Anastasia. Kata Mama, namaku terinspirasi dari Lady Diana yang terkenal itu. Aku, Diana, hanyalah gadis biasa. Dalam keseharianku, aku kadang suka sok bertingkah laku ala princess. Seperti misalnya doing a princess pose (it’s hard to describe here : itu loh yang angkat gaunnya terus kakinya disilangkan lalu membungkuk sedikit). Pokoknya, I always pretend to be a princess in my mind :D

Di kamarku, terpajang miniatur Istana Buckingham Palace. Mama membelikannya untukku. Walaupun kami hidup sederhana, Mama dulu pernah dapat beasiswa sehingga bisa kuliah di Inggris loh!

Waktu Prince William dan Kate Middleton menikah, aku cuma bisa gigit jari sambil membayangkan : mungkin gak sih aku bisa seperti itu? Naik kereta kencana, tinggal di istana, dan yang serunya lagi bisa melakukan aksi social charity sambil jalan-jalan keliling dunia. Isn’t it awesome? Karena Prince William sudah menikah, maka Prince Harry adalah ‘sasaran empuk’ tempatku menggantungkan mimpiku.

Sebagian temanku berkata bahwa aku hanya membuang waktuku saja untuk memimpikan sesuatu yang mustahil untuk dicapai. But hey, kata orang-orang sukses, jangan pernah meremehkan mimpi, semustahil dan sekonyol apapun itu.

Sambil goler-goleran di ranjang, kumantapkan tekadku, bahwa kalau aku tidak bisa mewujudkan mimpi (konyol)ku untuk menikah dengan pangeran berkuda putih; at least aku bisa menjejakkan kaki di depan Buckingham Palace. Guling-gulingan di rumputnya yang nyaman. Nyubit pipi penjaga istananya. Dan sekalian ambil foto selfie di sana lalu upload ke Facebook, Twitter dan Instagram. Biar teman-teman yang meremehkanku cuma bisa gigit jari. I’m determined to do that.

***

Pagi itu seperti biasanya, aku bangun, mandi, sarapan dan bersiap untuk pergi ke kampus. Everything is just normal until… Terdengar suara deru mobil yang berhenti tepat di depan rumahku yang minimalis itu. Aku mengintip dari jendela kamar.

Gila. Sebuah mobil limosin. Ada apa ini.

Kulihat Mama pergi ke depan dan membukakan pintu untuk tamu misterius itu.  

“Diana, yuk ke ruang tamu sebentar. Ada yang mau bertemu denganmu nih.” Mama memanggilku.

Aku pun turun dari kamar dan memberanikan diri untuk bertemu tamu misterius itu. Di sofa, sudah duduk seorang pria tua bertopi hitam dengan kumis tebal yang khas dan perut yang gendut. Ia duduk sambil memegang tongkat jalan.

Good morning! Selamat pagi, Diana. Wah, you’re all grown-up now! Perkenalkan, saya Anthony Smith, pengurus Buckingham Palace. But you can call me by my nickname : Potato. I’m coming here all the way from London. Jakarta’s traffic is very crowded, ya.” ujarnya dengan aksen British bercampur Bahasa Indonesia.

Wait, what? Pengurus Buckingham Palace? Siapa namanya tadi? Potato? Kentang? Eh tapi kok dia bisa Bahasa Indonesia ya? Les Bahasa Indonesia di mana, Mister? Ah, aku jadi pusing.

Oh my dear Diana, kamulah orang yang kami cari selama ini.”

Hah? Cari? Dikiranya aku most wanted person kali ya.

“Eh. Oh, emangnya saya habis ngapain ya Mister?” tanyaku dengan polosnya.

“HA-HA-HA.” tawanya menggelegar. “You’re so funny, Diana. Jadi, saya datang ke sini untuk memberi tahu bahwa kamu adalah wanita yang Prince Harry cari selama ini. Saya ke sini untuk menjemputmu dan di bulan September nanti akan kita laksanakan Royal Wedding untukmu dan Prince Harry di Westminster Abbey.”

WHAATTT? Aku mencoba menoleh ke arah Mama dan Papa yang sedari tadi menyimak percakapanku dari ruang keluarga. No response. Rather than surprised, they are both look happy.
“Ah yang bener aja Mister. Gak salah orang?“

Of course no, my Diana. You are the right person for Prince Harry."

I think I have some kind of déjà vu right now.

Kemudian Mister Potato melanjutkan, “Kamu tahu kenapa sampai sekarang Prince Harry belum married juga? That’s because he’s waiting for you, Diana Anastasia! See? Inilah kekuatan ajaib dari cinta! Karena cinta itu gak pernah bohong, Diana!” ujarnya berapi-api

Pipiku mulai merona merah. Prince Harry is waiting for me?  Masa sih?

Lalu kuisengi saja Mister Potato dengan kalimat ini : “Me… After all this time?”

Wow. Dramatis kedengarannya.

“Always.“ tegas si Mister Potato. Rupanya dia punya sense of humor yang bagus juga.

Fyi, aku baru saja mengulang 1 baris kalimat dalam novel Harry Potter ketujuh karangan JK Rowling saat Profesor Dumbledore bertanya kepada Snape apakah selama ini Lily Potter yang dicintainya.

Masih belum hilang rasa penasaran dan ketidakpercayaanku. Mister Potato melanjutkan: “So, Diana, siapkan koper dan barang-barangmu ya, kita fly to London this afternoon!”

Aku masih diam terpaku. Still can’t believe it. My dream has finally come true! Papa dan Mama cuma bisa senyam-senyum. Rupanya mereka kegirangan. Ya iya juga sih, siapa pula yang gak bakal heboh kalau anak perempuan mereka satu-satunya ternyata adalah the only one soulmate for Prince Harry! Pangeran Inggris loh bok. Penerus tahta Kerajaan Inggris!

***
I feel surreal. Siapa sangka ternyata jodohku adalah seorang pangeran Inggris! Selidik punya selidik, saat umurku 4 tahun, aku pernah diboyong ke Buckingham Palace untuk bertemu dengan Prince Harry karena ternyata Mama adalah salah satu teman satu geng Lady Diana sewaktu masih kuliah dulu! Aku cuma bisa menganga. Mama, temennya seorang Lady Diana?! Kenapa selama ini gak pernah cerita sik Ma? *unyel-unyel Mama*

Satu hal lagi yang juga jadi masalah, kenapa aku di umur 4 tahun itu sama sekali gak inget pernah ketemu sama Prince Harry?! That’s the power of love. Betapa ajaibnya cinta, sehingga bisa menyatukanku dengan Prince Harry dengan cara yang gak pernah kuduga! Plus, God always works in a mysterious way ;)

Sekarang akupun percaya: Kalau jodoh, emang gak akan ke mana.

Can I tell you something even crazier? I’m gonna move to London! Prince Harry and Buckingham …. I’m coming!

***

Prince Harry and Buckingham.... wait for me!

Tulisan ini disertakan dalam kompetisi blog "Ngemil Eksis Pergi Ke Inggris" oleh Mister Potato

Friday, May 02, 2014

Get Ready to Surprise Yourself

Halo, peeps! H-11 menuju final exam. Dan gue masih sibuk, as always. Belum bisa fokus sama preparation examnya :( Banyak banget yang mesti dikerjain : paper, organizational things, rapat2, etc. Ini sebenernya lagi sibuk ngetik paper yang mesti 10 halaman huhu. Tapi biasalah gue kerjaannya browsing sana-sini mulu sambil nugas. Dan gue nemu tweet ini dari timelinenya @yeahmahasiswa :

"Kalo belum ada kesempatan ngejalanin apa yang dipengen, jalanin aja dulu yang ada. Siapa tau jalannya emang harus memutar."

WIH. DALEM BANGET GAK SIH, GUYS. Kenapa adminnya @yeahmahasiswa bisa se-wise ini :") Buat gue pribadi sih ini 'nyesss' dan memotivasi banget. Biasalah, di tahun kedua kuliah ini gue mulai jenuh dengan rutinitas kuliah yang begitu-begitu aja. Bener emang, di semester 4-5 begini lagi capekkk banget kuliah. Gue lagi galau masa depan bro. Takut banget gak dapet kerjaan di perusahaan yang oke nanti *amit-amit*. Gue pengen nyoba sesuatu yang challenging lah, yang menantang dan tentunya bisa mengasah soft skills gue. Apalah arti GPA tinggi2 kalo ujung2nya susah nyari kerja, ye gak? :(( This is my goddamn biggest fear.