Wednesday, February 29, 2012

Leap A Year

A very very short post :)
Just to treasure a special moment like today.

HAPPY 29TH FEBRUARY :D

Leap a year!

:)

Tuesday, February 28, 2012

Ignored

I hate that feeling of ignorance, being left. Am I not good enough for you? It's like I always do something that is taken for granted. And it keeps on repeating itself.

What if, you have done such good things to them, but as a feed-back they were so unresponsive and did nothing to you?

I think that's why it's really hard to grab someone's heart. You may do good for them, in purpose that they will stay beside you, but in fact, they don't pay attention about your kindness and leaving you alone, ignoring you as if you were not there.

What a poor story~ *sigh*
Published with Blogger-droid v1.7.4

Thursday, February 23, 2012

Two More Months

Hanya tinggal dua bulan lagi. Dua bulan kurang bahkan. Gua bakalan terbebas dari jeratan pelajaran IPA itu *phew* Sejak awal gua merasa masuk IPA memang sepertinya pilihan yang salah ya. Harusnya gua gak peduliin gengsi, harusnya gua sadar dan mentingin kemampuan gua, harusnya gua dari awal masuk IPS.

Ini terbukti waktu praktikum Biologi tadi. Ketika dibebaskan boleh pakai alat apa aja, gua malah bengong. Ga tau mau ngapain. Gua merasa bener-bener gak betah kerja di laboratorium dan sejenisnya O__O Untunglah gua tidak jadi memutuskan masuk SITH ITB *phew* Dulu gua berpikir kalau Biotek itu seru (mungkin memang seru bagi mereka yang benar-benar ber-passion di bidang ini), tapi setelah diberi tahu oleh seorang teman katanya anak Biotek itu kerjaannya ngendon terus berjam-jam di lab, gua jadi mikir-mikir lagi.... Kemudian setelah lama merenung di kamar, gua merasa gua gak gitu passion di Biologi. Yah, bayangin aja, semenjak kelas 12, gua mencak-mencak mulu sama segala pelajaran IPA. Gimana pula ntar kuliah ketemunya pelajaran itu-itu lagi? I need some refreshments, dude.

Terbukti pula dengan 2 nilai Try-Out, di mana nilai Bahasa Indo dan Bahasa Inggris gua yang bahkan jauh lebih 'kinclong' daripada nilai Mat, Fis, Kim, Bio yang hampir semuanya pas-pasan -____- Yah sekarang sih intinya gua bakal berjuang habis-habisan karena ini TERAKHIR KALINYA gua belajar Fis, Kim, Bio. I'm gonna not meet you anymore in the university, HA-HA! Semoga bisa dapet nilai UN yang maksimal, Amin, Amin :)))

Tinggal kurang lebih 56 hari lagi menuju UN dan gua akan lepas dari segala kemunafikan dan kebrengsekan di sini. Life starts at university, I hope.

Thursday, February 16, 2012

Baka ni Naru ^^

Q : What should you do to balance work and school? 
A : Become AN IDIOT!
- Sakurai Sho


Awesome Postcard

Guess what I got yesterday?
An uchiwa (Japanese hand fan)-shaped postcard from Japan :)

SUPERRR EXCITEDD :)


This uchiwa postcard was sent by Ayumi Mizuno-san from Nagoya. It's cool, isn't it? I wonder if in Indonesia, we have unique shaped-postcard like any other countries :) Because, rectangle-postcard is too mainstream, right?

Finally

I just want to share you this picture :



MY PAPER IS OFFICIALLY FINISHED. OH YESSS~~~
It consists for about 90 ++ pages in total :)

By doing this, I feel very proud of being myself :'')))

It feels like one of the obstacles has been finally released :)
Now I'm gonna focus on the try outs and practical exams.
I have to do my best :))

Sunday, February 12, 2012

Daiseikou xD

Pada akhirnya gua ikut sidang kartul juga tanggal 4 Februari kemarin xD So far, sidangnya berjalan lancar. Untungnya gua gak ditanyain isi bab II nya yang berisi teori semua O__O Jadi, seiinget gua sih, pertanyaannya berkisar : jelaskan yang kamu tahu apa itu Metode Kumon, gimana sejarahnya, sejauh mana sih Kumon bisa membantu mengatasi problem perbedaan daya tangkap siswa terhadap Matematika. Sejauh itu pula pertanyaan-pertanyaan itu bisa gua jawab dengan baik. Tapi ada satu pertanyaan yang sepertinya gua menjawabnya kurang "nendang". Jadi pertanyaannya gini : "Menurut kamu, Kumon tuh mengganggu pelajaran Matematika yang diajarkan di sekolah gak sih, karena kan materinya berbeda dengan yang diajarkan di sekolah?"

Gua diem. Mikir sebentar. Terus gua cuma jawab : ya, gak bakal keganggu sih, Bu kalau menurut saya. Kemudian Bu Surti, penguji kartul gua nanya lagi : "Ya tapi kenapa tuh sebabnya? Contohnya saja ya, anak-anak yang sekarang banyak ikut BTA. BTA itu kan pelajarannya beda dengan yang diajarkan di sekolah, dan akibatnya banyak dari mereka yang mengabaikan ulangan-ulangan di sekolah. Menurut kamu kenapa?"

Dan akhirnya setelah 2 kali ditanya balik, gua jawab aja gini (karena udah ga ada ide, ga bisa mikir buat jawab apa) : "Menurut saya, itu konsekuensi mereka, Bu. Kalau mereka udah komit, ya mereka harus tetap menjalani kewajiban-kewajiban itu. Terganggu atau tidaknya tergantung dari mereka sendiri." Untungnya gua gak ditanyain lebih lanjut soal pertanyaan itu dan pindah ke pertanyaan lain. Gua terselamatkan bro. HAHAHA :)

Anyway, sekarang tinggal nge-jilid kartulnya. Gua bersyukur kartul gua tidak perlu rombak abis-abisan. Hanya revisi untuk ketikan yang salah-salah saja. Semoga hasilnya bagus deh. AMIN. Itung-itung kan latihan buat ngerjain skripsi di kuliah nanti :)

Pika Pika


source : 9gag.com

valentine (?)

Semua orang juga pada udah tau kali yah. Dua hari lagi Valentine. Hahaha. Dan gua, sama seperti tahun-tahun sebelumnya tidak akan merasakan keistimewaan 14 Februari. Gua tetaplah gua. HAHA. Gua yang FOREVER ALONE LEVEL 99 xD


Udah gitu, ditambah lagi barusan ngeliat film Kimi ni Todoke dan ada adegan yang kayak gua caps-in di atas. Makin menjadilah kegalauan hari ini -_______- Jadi yah, berhubung udah 18 tahun *jalan 19 tahun tahun ini* sepertinya gua udah harus mulai berpikir serius juga tentang... yah... nyari pacar. Biar ada yang nyemangatin gua kuliah. Biar ada yang anter-jemput gua. Biar ada yang perhatiin gua. 

Maaf yah, post ini sangat galau berhubung tidak akan ada pacar yang menemani gua pada Valentine tahun ini :D

「いつもありがとう"」



Yukata photoshoot with one of my bestest friend, Theresia :)
Thank you for always listening to my complains
Thank you for always supporting me~
A place to convey all my feelings
A place to go when nobody understands me :D
Thank you for being kind and care for me :))
Thanks for everything~~


"どれくらいの奇跡が重なってさ 僕らはこうやってさ 出会えたんだろう?
照れくさくてなかなか言えないけど 心の中で叫ぶ 「いつもありがとう"」


"I wonder how many miracles piled up for us to meet like this. It's embarrassing so I can't really say it, but in my heart, I shout, "THANK YOU FOR EVERYTHING" - Friendship - Aiba Masaki

lyrics : yarukizero@LJ

Postcard #9



From andriyko - Ukraine ( UA - 116630)

Postcard #8


                                                 From brightdays - Taiwan (TW- 336598)

Saturday, February 11, 2012

Apakah Anakku Harus Ranking 1?

Re-blog dari http://annasahmad.wordpress.com/2012/02/07/rangking-satu/

Selamat membacaa :) Semoga bermanfaat!

Si Ranking 23 : “Aku ingin menjadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan”

Di kelasnya terdapat 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku tetap mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilan dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah yang sesungguhnya. Sebagai orangtua, kami merasa nama panggilan ini kurang enak didengar,namun ternyata anak kami  menerimanya dengan senang hati.

Suamiku mengeluhkan ke padaku, setiap kali ada kegiatan di perusahaannya atau pertemuan alumni sekolahnya, setiap orang selalu memuji-muji “Superman cilik” di rumah masing-masing, sedangkan dia hanya bisa menjadi pendengar saja. Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol, juga memiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak kami rangking nomor 23 dan tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu, setiap kali suamiku menonton penampilan anak-anak berbakat luar biasa dalam acara televisi, timbul keirian dalam hatinya sampai matanya begitu bersinar-sinar.

Kemudian ketika dia membaca sebuah berita tentang seorang anak berusia 9 tahun yang masuk perguruan tinggi, dia bertanya dengan hati kepada anak kami: “Anakku, kenapa kamu tidak terlahir sebagai anak dengan kepandaian luar biasa?” Anak kami menjawab: “Itu karena ayah juga bukan seorang ayah dengan kepandaian yang luar biasa”. Suamiku menjadi tidak bisa berkata apa-apa lagi, saya tanpa tertahankan tertawa sendiri.

Pada pertengahan musim, semua sanak keluarga berkumpul bersama untuk merayakannya, sehingga memenuhi satu ruangan besar di sebuah restoran. Topik pembicaraan semua orang perlahan-lahan mulai beralih kepada anak masing-masing. Dalam kemeriahan suasana, anak-anak ditanyakan apakah cita-cita mereka di masa mendatang? Ada yang menjawab akan menjadi pemain piano, bintang film atau politikus, tiada seorang pun yang terlihat takut mengutarakannya di depan orang banyak, bahkan anak perempuan berusia 4½ tahun juga menyatakan bahwa kelak akan menjadi seorang pembawa acara di televisi, semua orang bertepuk tangan mendengarnya.

Anak perempuan kami yang berusia 15 tahun terlihat sangat sibuk sekali sedang membantu anak-anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya kelak. Di bawah desakan orang banyak, akhirnya dia menjawab dengan sungguh-sungguh: Kelak ketika aku dewasa, cita-cita pertamaku adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari lalu bermain-main. Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan akan cita-cita keduanya. Dia menjawab dengan besar hati: “Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang”. Semua sanak keluarga tertegun dibuatnya, saling pandang tanpa tahu akan berkata apa lagi. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali.

Sepulangnya kami kembali ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak menjadi guru TK?

Apakah kami tetap akan membiarkannya menjadi murid kualitas menengah?

Sebetulnya, kami juga telah berusaha banyak. Demi meningkatkan nilai sekolahnya, kami pernah mencarikan guru les pribadi dan mendaftarkannya di tempat bimbingan belajar, juga membelikan berbagai materi belajar untuknya.
Anak kami juga sangat penurut, dia tidak lagi membaca komik lagi, tidak ikut kelas origami lagi, tidur bermalas-malasan di akhir minggu tidak dilakukan lagi.
Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan terus tanpa henti. Namun biar bagaimana pun dia tetap seorang anak-anak, tubuhnya tidak bisa bertahan lagi dan terserang flu berat. Biar sedang diinfus dan terbaring di ranjang, dia tetap bersikeras mengerjakan tugas pelajaran, akhirnya dia terserang radang paru-paru. Setelah sembuh, wajahnya terlihat semakin kurus. Akan tetapi ternyata hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja rangking 23. Kemudian, kami juga mencoba untuk memberikan penambah gizi dan rangsangan hadiah, setelah berulang-ulang menjalaninya, ternyata wajah anak perempuanku kondisinya semakin pucat saja.

Apalagi, setiap kali akan menghadapi ujian, dia mulai tidak bisa makan dan tidak bisa tidur, terus mencucurkan keringat dingin, terakhir hasil ujiannya malah menjadi nomor 33 yang mengejutkan kami. Aku dan suamiku secara diam-diam melepaskan aksi tekanan, dan membantunya tumbuh normal.

Dia kembali pada jam belajar dan istirahatnya yang normal, kami mengembalikan haknya untuk membaca komik, mengijinkannya untuk berlangganan majalah “Humor anak-anak” dan sejenisnya, sehingga rumah kami menjadi tenteram damai kembali. Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak memahami akan nilai sekolahnya.

Pada akhir minggu, teman-teman sekerja pergi rekreasi bersama. Semua orang mempersiapkan lauk terbaik dari masing-masing, dengan membawa serta suami dan anak untuk piknik. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa dan guyonan, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan karya seni pendek.

Anak kami tiada keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan sangat gembira.

Dia sering kali lari ke belakang untuk mengawasi bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat sedikit miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap wadah sayuran yang bocor ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.

Ketika makan terjadi satu kejadian di luar dugaan. Ada dua orang anak lelaki, satunya adalah bakat matematika, satunya lagi adalah ahli bahasa Inggris. Kedua anak ini secara bersamaan berebut sebuah kue beras yang di atas piring, tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau saling membaginya. Walau banyak makanan enak terus dihidangkan, mereka sama sekali tidak mau peduli. Orang dewasa terus membujuk mereka, namun tidak ada hasilnya. Terakhir anak kami yang menyelesaikan masalah sulit ini dengan cara yang sederhana yaitu lempar koin untuk menentukan siapa yang menang.

Ketika pulang, jalanan macet dan anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku membuat guyonan dan terus membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan banyak bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan, membuat anak-anak ini terus memberi pujian. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio-nya masing-masing.

Ketika mendengar anak-anak terus berterima kasih, tanpa tertahankan pada wajah suamiku timbul senyum bangga.

Selepas ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku.

Pertama-tama mendapatkan kabar kalau nilai sekolah anakku tetap kualitas menengah. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang hendak diberitahukannya, hal yang pertama kali ditemukannya selama lebih dari 30 tahun mengajar.
Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu siapa teman sekelas yang paling kamu kagumi dan alasannya.

Selain anakku, semua teman sekelasnya menuliskan nama anakku.

Alasannya pun sangat beragam : antusias membantu orang, sangat memegang janji, tidak mudah marah, enak berteman, dan lain-lain, paling banyak ditulis adalah optimis dan humoris.

Wali kelasnya mengatakan banyak usul agar dia dijadikan ketua kelas saja.

Dia memberi pujian: “Anak anda ini, walau nilai sekolahnya biasa-biasa saja, namun kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu”.

Saya bercanda pada anakku, kamu sudah mau jadi pahlawan. Anakku yang sedang merajut selendang leher terlebih menundukkan kepalanya dan berpikir sebentar, dia lalu menjawab dengan sungguh-sungguh: “Guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.”

Dia pun pelan-pelan melanjutkan: “Ibu, aku tidak mau jadi Pahlawan aku mau jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Aku terkejut mendengarnya dan mengamatinya dengan seksama.

Dia tetap diam sambil merajut benang wolnya, benang warna merah muda dipilinnya bolak balik di jarum, sepertinya waktu yang berjalan di tangannya mengeluarkan kuncup bunga.

Dalam hatiku pun terasa hangat seketika.

Pada ketika itu, hatiku tergugah oleh anak perempuan yang tidak ingin menjadi pahlawan ini. Di dunia ini ada berapa banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi seorang pahlawan, namun akhirnya menjadi seorang biasa di dunia fana ini.
Jika berada dalam kondisi sehat, jika hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hati, mengapa anak-anak kita tidak boleh menjadi seorang biasa yang baik hati dan jujur.

Jika anakku besar nanti, dia pasti menjadi seorang isteri yang berbudi luhur, seorang ibu yang lemah lembut, bahkan menjadi seorang teman kerja yang gemar membantu, tetangga yang ramah dan baik.

Apalagi dia mendapatkan ranking 23 dari 50 orang murid di kelasnya, kenapa kami masih tidak merasa senang dan tidak merasa puas?

Masih ingin dirinya lebih hebat dari orang lain dan lebih menonjol lagi?

Lalu bagaimana dengan sisa 27 orang anak-anak di belakang anakku? Jika kami adalah orangtua mereka, bagaimana perasaan kami?


Anakmu bukan milikmu.
Mereka putra putri sang Hidup yang rindu pada diri sendiri,
Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau,
Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu.
Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu,
Sebab mereka ada alam pikiran tersendiri.
Patut kau berikan rumah untuk raganya,
Tapi tidak untuk jiwanya,
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi meski dalam mimpi.
Kau boleh berusaha menyerupai mereka,
Namun jangan membuat mereka menyerupaimu
Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
Pun tidak tenggelam di masa lampau.
Kaulah busur, dan anak-anakmulah
Anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian.
Dia merentangmu dengan kekuasaan-Nya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.
Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihiNya busur yang mantap.
- Kahlil Gibran

Sunday, February 05, 2012

Back to Life~

It's been almost a week got nothing to post here. Well, yeah. I just recover from chicken pox disease *ugh* It's embarrassing to say that I suffered from chicken pox for almost a whole week. I don't know where I got the virus. Maybe from school (?) Because my friends said that one of our teacher just got back from the same disease. Just forget it, the most important is tomorrow I could go to school~ 

Tomorrow, I will get my paper exam. I take the innovative Mathematics learning method as the main topic and I choose Kumon to be analyzed. And you know what, after I read my paper carefully, I found out that I mostly promote this Kumon method LOL xD I hope the exam goes well tomorrow *cross-fingered* just hope for the best and no revision hopefully :)