Wednesday, January 21, 2015

Character Building Beswan Djarum 2014/2015 : Menempa Diri menjadi Pribadi Berkarakter Unggul (Part 1)

Setelah pelatihan Nation Building, pelatihan kedua yang kami dapat sebagai Beswan Djarum adalah Character Building. Mungkin bagi kalian yang sudah pernah dengar kegiatan Character Building, yang terbayang di pikiran adalah “ospek” secara militer. Nah, mendengar kata "militer" dan "pembentukan karakter" pasti bikin sebagian besar dari kita nyalinya udah ciut duluan. Begitupun dengan saya. Awalnya, saya sangat cemas menantikan datangnya hari untuk ikut berpartisipasi dalam Character Building. Tapi setelah menjalani seluruh prosesnya, yang ada sewaktu balik ke Jakarta saya malah kangen dengan suasana di Cikole, Lembang. Cikole tak akan kulupaaa~ Djarum Beasiswa Plus nih emang paling-paling deh ya, selalu bikin Beswan sukses gagal move on di setiap pelatihannya. 

Character Building



“Kemampuan itu akan lekang oleh waktu, tapi karakter itu selamanya.” 

Pelatihan ini mengajarkan kepada para Beswan bagaimana menjadi seorang pemimpin yang berkarakter dan penuh tanggung jawab. Di sinilah Beswan Djarum berproses menjadi pribadi mandiri dengan dibekali 6 karakter dasar: keterpercayaan, tanggung jawab, hormat, kesetaraan, kepedulian dan kewargaan (sumber : website Djarum Beasiswa Plus). 

Event outbound yang super seru ini (dijamin bakal ketagihan kalau sudah sembuh dari pegal-pegal dan juga biru-lebam di beberapa bagian badan) akan melatih karakter dan mentalitas kami sebagai Beswan Djarum. Karena katanya, karakter seseorang yang sebenarnya justru baru kelihatan saat ia sedang berada di dalam tekanan ataupun kesulitan. Apakah kita akan tetap berusaha untuk setia, percaya dan berjuang sampai akhir? Atau justru dengan mudahnya putus asa, emosional dan ingin cepat-cepat menyerah?

Lewat serangkaian team games yang membutuhkan kekompakan dan kerjasama tim serta personal games yang sungguh menantang adrenalin, karakter kita bakal benar-benar terlihat yang aslinya deh di sini! Event Character Building ini benar-benar berharga bagi saya secara personal karena di sini kedekatan antara sesama Beswan begitu terasa. Selain itu yang tak kalah menarik adalah filosofi dan nilai-nilai luhur di balik setiap games yang dijalani selama di Cikole, Lembang. I like it so much! Karena it’s applicable banget untuk kehidupan kita sehari-hari.
   
Kalau di Nation Building kami semua ber-516 berkumpul bersama, di pelatihan Character Building ini kami terbagi ke dalam 5 batch. Sehingga dalam 1 batch-nya hanya terdapat maksimal 100-an Beswan. Jadinya kita bisa lebih akrab deh! Untuk kampus saya (Unika Atma Jaya) mendapat jatah batch 4 dan batch 5. Namun karena saat batch 4 berlangsung saya harus KRS-an, maka saya putuskan ikut batch 5 alias batch terakhir agar tidak bentrok. Adapun batch 5 Character Building Beswan Djarum 2014/2015 berlangsung dari 14-17 Januari 2015. Sejujurnya takut banget ikut batch terakhir, takutnya kan kita diperlakukan “habis-habisan” sama bapak-bapak TNI-nya karena ini kan batch penutup Character Building 2014/2015. Eh tapi ternyata, apa yang saya pikirkan berbanding 180 derajat dengan apa yang terjadi. It was so fun! 

Let me share my precious experience to you, guys!

Here we go….

14 Januari 2015 : Cultural Visit ke Saung Angklung Mang Udjo dan Check-in di Zone 235, Lembang

Seperti biasa, Beswan RSO Jakarta berkumpul terlebih dahulu di Terminal keberangkatan 1A tepatnya di Red Corner. Saya dan teman-teman Atma Jaya yang batch 5 sudah sampai di bandara jam 9 pagi. Namun karena pesawat Beswan Palembang delay, terpaksa kami menunggu hingga jam 12 siang. Sekitar pukul 12.30 bus pun berangkat menuju Bandung.

Saung Angklung Udjo : Keep The Old One, Create The New One

Sekitar jam 5 sore, kami tiba di Saung Angklung Udjo. Sebelum menyaksikan pertunjukan angklung yang mulai pukul 19.00, kami check-up kesehatan (cek tensi darah) dan makan malam terlebih dahulu. Sewaktu diperiksa, tensi darah saya sekitar 110/70. Hmm, not bad lah ya.

Tepat pukul 18.30 kami diminta berkumpul di panggung utama. Acara dibuka dengan presentasi dari pihak Saung Angklung Udjo. Dari presentasi tersebut saya baru tahu kalau Saung Angklung Udjo ternyata panjang sekali perjalanannya untuk menjadi Saung Angklung seperti yang kita kenal sekarang ini. Saung Angklung Udjo didirikan pada 1966 oleh Mang Udjo Ngalagena. Di samping pertunjukan rutin tiap sore, berkali-kali Saung Angklung Udjo mengadakan pertunjukan khusus (seperti kolaborasi dengan penyanyi ternama Indonesia) tiap pagi atau siang hari. Pada tahun-tahun awal pendiriannya, jumlah pengunjung mancanegara justru lebih tinggi ketimbang pengunjung lokal. Hal ini membuat Saung Angklung Udjo berfokus untuk meningkatkan jumlah pengunjung domestik dengan tujuan agar pelestarian angklung dapat dilakukan.



Tidak hanya menggelar pertunjukan seni dan budaya bambu bagi para wisatawan, Saung Angklung Udjo ini juga menyediakan sarana edukasi berupa sanggar seni bagi masyarakat sekitar. Dari pertunjukan yang saya saksikan, banyak sekali anak-anak kecil (bahkan mungkin ada yang berusia 3-4 tahun) sudah mahir menari tarian Sunda dan memainkan angklung. Inilah yang membuat pengembangan Saung Angklung Udjo berbasiskan komunitas.

Angklung telah menjadi warisan dunia dan merupakan salah satu kebudayaan Indonesia yang membanggakan. Saung Angklung Udjo tetap berusaha mempertahankan eksistensi budaya tanah Pasundan sambil terus melakukan inovasi. Salah satu inovasi yang dilakukan adalah dengan adanya grand angklung yang dimainkan ke dalam bentuk sebuah orchestra angklung. Layaknya piano, angklung-angklung ini dimainkan dengan cara disentuh. Grand Angklung sendiri dibuat oleh Taufik Hidayat Udjo pada tahun 1997 dan dikembangkan pada tahun 2007. Selain itu, tak selamanya pertunjukan angklung di Saung angklung udjo ini memainkan lagu-lagu tradisional saja, lagu internasional pun mereka mainkan. Saking kerennya, pertunjukan angklung mereka sukses membuat saya merinding.

Tak hanya memainkan angklung bersama, kami juga diajak melihat langsung pembuatan angklung sekaligus cara untuk menentukan nada yang sesuai. Prinsip fisika yaitu resonansi digunakan dalam pembuatan angklung ini.

Intinya di sini kami belajar memaknai kekayaan bangsa dan kembali menjadi pelaku budaya dalam rangkaian pementasan bambu yang meriah. Bukan hal yang sulit bagi generasi muda untuk menapaki satu per satu kekayaan bangsa. Kemauan untuk belajar dan melestarikanlah yang perlu terus kita genggam dalam proses mendewasakan Indonesia. Siapa lagi yang akan menjaga jika bukan kita! Jangan lupa untuk terus konsisten untuk melestarikan yang sudah ada sambil terus berinovasi. Seperti kata Mang Udjo : “Keep the Old One, Create the New One

Simulasi Tempur Zone 235

Picture taken by me (instagram.com/eugeniasepthariani)

Seusai menyaksikan pertunjukan, memainkan angklung dan menari bersama-sama anak-anak dari Sanggar Saung Angklung Mang Udjo, kami digiring (buset digiring, udah kayak bebek aja) untuk check-in di Zone 235, Lembang. Sekitar jam 9 malam, kami check-in di sana untuk di-briefing dan diberikan perlengkapan untuk Character Building. Suasana tegang sudah menyelimuti. Pasalnya tiap kami mendengar arahan yang diberikan dan apabila sudah jelas kami harus menjawab diawali dengan kata "siap" sehingga jadinya seperti ini :

Instruktur : "Apakah sudah jelas instruksinya?"
Peserta : "Siap, jelas!"
Instruktur : "Apakah ada pertanyaan?"
Peserta : "Siap, tidak!"

Tidak hanya itu, disiplin dan kerapian juga dilatih di sini. Koper harus diletakkan di depan veltbed, sleeping bag di atasnya dan handuk harus dilipat rapi di atas koper. Strict banget ini. Barak peserta cewek bernama Barak Diponegoro sedangkan yang cowok bernama Barak Sudirman. Setelah beres-beres dan menyiapkan perlengkapan untuk esok hari, sekitar jam 12 malam saya baru bisa tidur.

No comments:

Post a Comment