Thursday, January 22, 2015

Character Building Beswan Djarum 2014/2015 : Menempa Diri menjadi Pribadi Berkarakter Unggul (Part 2)

Bagian sebelumnya dapat dibaca di sini - PART 1

So, here we go! First day of character building…
Pagi-pagi jam 04.30 kami harus sudah bangun, mandi dan siap-siap mengenakan atribut yang lengkap (baju lengan panjang + celana training + botol minum + topi). Gak lupa sebelum memulai apel pagi, kami olahraga pagi ala-ala tentara. Berhubung saya udah lama banget gak pernah olahraga, baru lari kecil bolak-balik aja udah ngos-ngosan lho.

Olahraga pagi Batch 5
Pic credit : djarumbeasiswaplus.org
Acara berlanjut ke apel pagi lanjut ke makan pagi. Nah di sini, mau makan aja ribet guys, mesti baris dulu, duduk, lepas topi, doa bersama baru deh makan. Yang serunya lagi, makannya dijatahin waktunya dan HARUS HABIS! Buat yang cowok-cowok, ini mah urusan kecil. Buat yang cewek-cewek, ini bencana besar! Waktu makan selama Character Building adalah hal yang paling saya benci! Kadang lucu juga mengingat di Nation Building, makan adalah hal favorit kami semua di sana. Tapi di Character Building, yang cewek-cewek nih justru jadi males makan gara-gara nasi kotak itu harus habis dalam tempo yang sesingkat-singkatnya! Tapi dari sini kita bisa belajar disiplin kan. Bahkan sampe kebawa loh, saya sekarang kalau makan jadi lumayan cepet abisnya. Padahal dulu mah saya lama kalau makan!


Ini dia suasana setiap kali makan
Pic credit : djarumbeasiswaplus.org
Setelah makan pagi, diadakan upacara pembukaan. Yang bikin ngeselin adalah begitu acara resmi dibuka, eh tau-tau ada meriam meledak! Gilaaaa. Keras banget suaranya! Berhubung tempat kami melakukan Character Building ini adalah arena simulasi tempur, Pak Syaiful menginstruksikan kepada kami kalau mendengar bunyi tembakan pistol atau ledakan meriam, kami diharuskan untuk lari berlindung di balik pohon pinus menjauhi sumber suara ledakan atau tembakan. Satu pohon pinus untuk satu orang. Tiarap sangat disarankan ketika berlindung. Nah, belum sepenuhnya selesai instruksi itu, tiba-tiba iseng nih Bapak-Bapak TNInya. Duaaaar! Meriam yang lain meledak. Kami cuma bisa diam bengong sebelum Pak Syaiful memerintahkan kami untuk lari cari tempat berlindung. Langsung deh itu, kami lari kocar-kacir berusaha berlindung dan tiarap. Bahkan setelahnya ada seorang teman dari regu perempuan yang pingsan setelah lari-lari heboh tadi. Dan begitulah seterusnya, KAPANPUN kami mendengar suara ledakan atau tembakan kami harus lari cari tempat perlindungan. Well, bikin kaget sih, tapi seru!

Upacara Pembukaan
Pic credit : djarumbeasiswaplus.org

Sebelum serangkaian games dimulai, diadakan dulu ice breaking antara regu cewek dan cowok yakni kami main games Samson vs Delila. Setelah beberapa kali tanding, akhirnya regu cewek yang menang. Kami pun kemudian dibagi ke dalam delapan kelompok. Empat kelompok putera dan empat kelompok puteri. 

Ice Breaking Regu Putri vs Putra
Pic Credit : djarumbeasiswaplus.org

Saya masuk ke regu 8 yang terdiri dari 13 orang yakni : Radianti yang bertindak sebagai DanRu (Agrobisnis – UIN), Tama (FMIPA – UPI Bandung), Intan (Fakultas Bahasa & Seni – UPI Bandung), Vega (FT – Unhas), Rifka (Fak. Teknologi Pertanian – UGM), April (FISIP – UIN), Kilana (Fak. Teknologi Pertanian – UGM), Yohana (Manajemen – Unika Soegijapranata), Era (Farmasi – Unhas), Nafi (Fak. Teknologi Pertanian – UGM), Felis (FT – Univ. Nusa Cendana Kupang), Shabrina (FT – UGM) dan saya sendiri.

Regu 8 Full Team!
(Rifka - April - Kilana - Intan - Nafi - Rarad - Shabrina - Tama - Vega - saya - Felis - Hana - Era)

Ada 15 games yang akan kami mainkan selama pelatihan Character Building ini. Saya tidak akan membahas semuanya karena kalau membahas semuanya nanti post ini panjangnya udah kaya daftar belanjaan. Jadi saya akan bahas games-games yang menurut saya menarik dan punya filosofi bagus di dalamnya.

Construction Game
Ini adalah games paling pertama yang kami mainkan sebagai tim. Jadi dalam permainan ini, regu akan dibagi ke dalam tiga bagian atau tugas. Yang pertama, bertugas sebagai pemberi pesan. Mereka adalah yang melihat bangunan dari lego dan menyampaikannya dalam bentuk lisan ke pengantar pesan. Si pengantar pesan lalu akan berlari dari pos pemberi pesan untuk menyampaikan informasi lisan ke pos pembuat bangunan. Pembuat bangunan tidak boleh bertatap muka langsung dengan si pengantar pesan.

Pemberi pesan yang melihat bangunan lego
Pic credit : djarumbeasiswaplus.org

Pembuat bangunan lego
Pic credit : djarumbeasiswaplus.org
Di games ini saya bersama Vega dan Shabrina bertindak sebagai pembuat bangunan lego. Belum ada 5 menit games dimulai, hujan turun dengan derasnya. Terus dihentikan dong games-nya? You wish. Haha. Gamesnya jalan terus! Mau hujan badai pun bakal dilanjutkan gamesnya. Jadilah kami semua hujan-hujanan kedinginan mesti kerja sama menyelesaikan games ini. Mungkin karena baru pertama kali dijadikan satu tim, chemistrynya belum dapet dan akhirnya kami gagal membentuk bangunan lego. Akhirnya malah si bapak TNI yang membantu kami menyusun legonya. Kami bertiga cuma bisa “Oohhh..” Ya, kami akui, kami yang bertindak sebagai pembuat bangunan memang kurang inisiatif dan di sisi lain yang mengantarkan pesan pun kurang detail mengenai informasi lego mana yang dipakai. Filosofi dari permainan ini adalah komunikasi, belajar untuk menghargai proses, keterpercayaan kepada sesama anggota regu, dan sinergi dalam regu. 

Fill The Water
Usai Construction Game, kami melanjutkan games ke pos Fill The Water. Ini juga games yang seru banget selama Character Building. Teknisnya adalah disediakan pipa berlubang yang di dalamnya ada bola pingpong. Tugas kami adalah mengeluarkan bola pingpong itu dari dalam pipa dengan mengisi air ke dalam pipanya. Sounds easy? Iya, kalau tidak ada kolam isi lumpur yang memisahkan pipa dan ember air dan kalau ember airnya tidak berisi air kotor! Hanya disediakan 2 gelas kecil di games ini. Selain media gelas, kami diperbolehkan menggunakan semua anggota tubuh untuk menyelesaikan games ini. Awalnya kami menggunakan tangan dan gelas untuk membawa air dari ember ke pipa. Lumpur yang dalam dan licin membuat kami tak jarang terjatuh dan akhirnya kotor semua deh itu sepatu, celana, baju. Waktu terus berjalan dan instruktur pun meneriaki kami untuk mengambil air dengan menggunakan mulut sekaligus tangan. Mulut? Kami agak enggan berhubung airnya sudah bercampur lumpur dan kotoran. Tapi karena terpaksa karena usaha kami dengan menggunakan tangan belum membuahkan hasil, akhirnya kami menggunakan mulut sekaligus tangan untuk memasukkan air ke pipa.

Fill The Water - sampai harus berciuman dengan pipanya :)
Pic credit : djarumbeasiswaplus.org

Kami kembali gagal di games ini. Tapi sedikit demi sedikit kebersamaan dan kekompakan mulai terjalin di regu ini. Setiap dari kita pasti pernah merasakan bagaimana ego menjadi penghambat dalam keberlangsungan hidup. Kita terbiasa jumawa pada kemampuan sendiri tapi cuek dan semau kita sendiri. Di Fill the Water, kami berusaha menepis semua itu. Yang saya sendiri rasakan adalah menepis ego masing-masing dan berinisiatif. Ada yang mengambil peran sebagai penutup lubang pipa karena merasa tidak cepat berlari dan ada yang mengambil air. Lalu menepis ego dengan rela berkorban dan bersama-sama mengambil air kotor menggunakan mulut dan mengisi pipa tersebut. 

Trust Fall
Ini merupakan salah satu games favorit saya di hari pertama. Satu persatu dari kami mencoba menghempaskan diri dari ketinggian tertentu dan yakin bahwa akan ada rekan-rekan yang siap menopang. “Bawah siap? Siap! Atas siap? Siap!” Begitu teriakan yang berulang kali terdengar. Saya pun juga berusaha mencobanya. Deg-degan juga loh, menjatuhkan diri seperti itu. Percobaan pertama gagal, karena saya jatuh dengan posisi pantat duluan sehingga akan sakit bagi mereka yang mencoba menopangnya. Untungnya percobaan kedua berhasil. Saya berhasil menjatuhkan diri dengan mulus dan teman-teman saya tidak kesulitan menopang saya. Dari games ini saya belajar keterpercayaan dan integritas dalam regu. Sering kali dari kita dilingkupi rasa tidak nyaman, curiga dan ragu akan lingkungan yang kita diami saat ini. Trust fall memberi gambaran pentingnya sebuah kepercayaan dan bagaimana keberhasilan seseorang juga disokong oleh individu lain dan lingkungan di sekitarnya. Belajar saling percaya dan tolong-menolong.

Trust Fall
Pic credit : djarumbeasiswaplus.org
Malam harinya datanglah acara yang kami tunggu-tunggu : caraka malam. Tugas kami adalah menyampaikan pesan dari pos setar ke pos pinis kepada orang yang bernama Pak Dadang Mustopa. Regu cewek mulai duluan. Para danru maju dan suit untuk menentukan giliran. Tak disangka, regu saya dapat giliran pertama! Suatu kehormatan buat kami untuk maju pertama *apa sih* Kami ber-13 dibagikan kertas berisi pesan yang harus dihafalkan.

“Pada malam hari ini, Beswan Djarum sedang mengikuti kegiatan Caraka Malam menyusuri hutan gelap dan angker, tempat pembuangan mayat pada zaman Belanda. Apabila di tengah hutan, Beswan Djarum melihat mayat yang berjalan dengan kepala menunduk dan penuh dengan lumuran darah, jangan mengganggu dan jangan mengikuti.”

Hem. Mantep gak tuh guys pesannya. Kata “gelap” dan “mayat” di-bold di print-an kertasnya. Sebelum masuk ke tengah hutan kita harus hafalin dulu isinya karena kertasnya tidak boleh dibawa. Makin horor aja kan tuh jalan di tengah hutan sambil ngeraba tali tambang biru sebagai penuntun sekaligus ngafalin pesannya :”) Yang ada di kepala saya itu waktu kita di tengah hutan takutnya bakal kejadian scene di Walking Dead dikejar-kejar zombie secara tiba-tiba :”)

Tantangan pada Caraka Malam ini adalah bagimana kita membawa pesan rahasia itu dengan aman hingga ke garis finish. Regu 8, regu saya, kebetulan mendapat giliran pertama. Saya sendiri adalah orang kelima dari regu saya yang melaksanakan Caraka Malam. Ada untungnya juga sih kami mulai pada giliran awal yakni sekitar jam 9 malam. Setan-setannya belum pada ready, guys haha :) Yang ngeselin itu cuma satu. Kain si pocong “jadi-jadian” nya itu menjuntai sampai ke tambang biru penuntun jalan. Jadi mau gak mau saya mesti menyentuh kain putih si Mr. P :”)

Saya sendiri gagal bawa pesan rahasia itu karena di tengah jalan saya membocorkannya. Kalau perang sungguhan, ini udah kalah deh gara-gara pesannya saya bocorkan. Emang dasar saya polos banget kali ya (padahal udah 21 tahun begini), ditanya “ada pesan gak” sama seorang bapak yang ngaku namanya Dadang Mustopa di pos pertama ya udah langsung saya sebutin deh tuh pesannya. Padahal saya udah tanya, “Pak, ada KTP gak? Bapak beneran Pak Dadang Mustopa?” Eh yang ada si bapaknya marah-marah ke saya. Mungkin saya lelah dan rasa takut berhasil menguasai saya :”) Di pos terakhir saya malah dikasih reward sama Pak Dadang Mustopa yang asli disuruh scout jump 10 kali :”) Tapi dari Caraka Malam ini saya jadi tahu bahwa saya masih kurang dalam hal integritas. Dari sini saya belajar, kalau kita harus bisa komitmen dan berintegritas dalam melaksanakan suatu tugas. Mungkin karena takut jadinya saya gak fokus untuk tetap menjaga pesan rahasia itu agar tetap aman. Tapi untungnya saya bukan satu-satunya orang di batch 5 yang gagal menyampaikan pesan rahasia tersebut. Ada beberapa juga yang gagal dalam misi Caraka Malam ini.

Nah, yang di sebelah kiri itu Pak Dadang Mustopa yang asli!
Pic credit : djarumbeasiswaplus.org
Berhubung kami regu pertama yang menyelesaikan Caraka Malam, mau tak mau kami menunggu sampai semua selesai melakukannya. Dari yang mulai heboh cerita pengalaman masing-masing sewaktu di tengah hutan, sampai sesekali kami ketiduran karena kelamaan nunggu regu cowok menyelesaikan Caraka Malam. Sesekali terdengar teriakan heboh yang justru berasal dari regu cowok. Akhirnya selesai juga hari yang melelahkan itu, kami pun kembali ke barak masing-masing dan tidur.

2 comments:

  1. Kalo jam 9 malem belum gelap banget sebenernya ya, cuma kalo diliat dari dalam hutan yang banyak pohonnya jadi serem. :D kebayang itu gimana kain pocong melambai2 bikin pengin teriak kenceng. x) seru ceritanya. ditunggu lanjutannya ya.

    ReplyDelete
  2. wahaha, acara beginian pasti seru banget.
    gue juga pernah tuh main fill the water. jadi kangen :")

    ReplyDelete