Wednesday, August 06, 2014

Happiness Can Exist Only in Acceptance

Terkait dengan kejadian menarik di pengumuman hasil rekapitulasi Pemilu 2014 22 Juli yang lalu yakni saat capres nomor urut 1, Prabowo Subianto, menyampaikan pernyataan politiknya di mana ia memutuskan untuk mundur alias menarik diri dari pengumuman Pilpres yang saat itu rekapitulasinya tengah berlangsung di KPU Pusat. Kejadian ini sontak membuat social media seperti Twitter ribut tentang Prabowo. Banyak yang meminta agar Prabowo legowo, mengikhlaskan dan yang terpenting adalah menerima kekalahan.

Yang mau saya tekankan di sini : penerimaan.
Acceptance.



Satu hal yang rasa cukup penting dalam hidup kita. Kadang ada hal-hal saat semesta tidak menakdirkan sesuatu untuk kita dapatkan. Satu-satunya yang bisa membuat kita tetap bertahan dalam adalah sikap ikhlas dan penerimaan. Let it go and move on.

Berbicara tentang sikap Prabowo yang menurut saya pribadi kurang gentle ini (tapi seperti yang Jokowi katakan, saya tetap percaya kalau Prabowo ini adalah seorang negarawan yang meletakkan kepentingan bangsa dan negara di atas segalanya), saya jadi terpikir apakah dulu waktu kecil si Pak Bowo ini tidak diajarkan untuk menerima kekalahan? Hmm.. Bila dilihat dari profil Prabowo, beliau adalah anak seorang begawan ekonomi Soemitro Djajahadikoesoemo dan dari kecil harta keluarganya melimpah (sehingga mungkin gak pernah hidup susah). Lalu beliau adalah menantu Soeharto dan punya karier militer yang cemerlang. 

Tapi tentu saja fokus post ini bukan Prabowo. Gak bakal abis-abislah ngomongin beliau yang begini begitu. Lihat saja hari ini ketika persidangan MK dimulai, beliau tampak sekali bukan menuntut keadilan, tapi justru menuntut supaya bisa menang. Saya sekali lagi ingin menyoroti pentingnya mengajarkan anak untuk menerima kekalahan.

Memang sih guys saya jelasss belum punya anak, tapi kok sok tau banget ya nulis hal-hal berbau parenting begini hehe. Tapi begini, bila nanti saya punya anak, tentu akan saya ajarkan untuk menerima kekalahan sedini mungkin. Kenapa penting? Kalau gak dari kecil, nanti pada saat dewasa anak-anak ini bisa berpotensi jadi seseorang yang gampang marah dan emosinya meledak-ledak karena keinginannya gak terpenuhi. Dan tentunya ini bakal berdampak pada kesuksesan anak kita nantinya di masa depan; mengingat hidup ini penuh dengan kompetisi. 

1. Yang paling simpel, mulai dari saat anak-anak bermain utamanya permainan olahraga
Sering gak sih kita lihat ada anak kecil yang lagi bermain (katakanlah main bola), lalu ketika temannya berhasil meng-gol-kan bola ke gawang, si anak langsung nangis tersedu-sedu. Atau bahkan ngamuk. Wah, ada sedikit tanda-tanda nih kalau si anak ini adalah tipe yang tidak mudah menerima kekalahan. Tanamkan pada mereka bahwa olahraga itu bukan hanya soal menang-kalah, tapi juga media untuk bergaul dengan sesama dan menjadikan fisik jadi lebih sehat.

2. Ikutkan anak pada berbagai kompetisi
Selain untuk mengasah bakatnya, juga untuk mengajarkannya supaya mengerti bahwa dalam setiap kompetisi pasti ada yang menang dan kalah. Ini akan membuatnya terbiasa dalam tiap proses kompetisi, sehingga menjadikannya rendah hati ketika menang dan legowo ketika kalah. Saya sendiri dari jaman TK sudah sering ikut lomba baik itu mewarnai, melukis, komputer, dan lain-lain. Dan terbukti bahwa saya jadi mengerti bahwa harus ada yang menang dan ada yang kalah pada kompetisi. Ketika kalah pun mindset saya sudah terbentuk bahwa ketika kalah, jadikan kompetisi ini sebagai pelajaran dan pengalaman untuk ke depannya.

3. You don't always get what you want
Ajarkan pada anak bahwa tidak semua yang dia inginkan harus ia dapatkan. THIS. Saya bersyukur dari kecil keinginan-keinginan saya tidak dengan mudah terpenuhi. Setiap ingin membeli sesuatu yang inginkan, mesti ada usaha dulu. Entah itu harus mendapat ranking di kelas, membantu orang tua, binsis kecil-kecilan hingga menyisihkan uang jajan berbulan-bulan hingga barang itu bisa terbeli. Remember, evertything takes time.

4. Tanamkan pentingnya proses, bukan hasil akhir
Sebagai orang tua, kita juga harus mampu menciptakan atmosfer yang baik untuk anak saat dia sedang mengalami kekalahan. Jangan langsung men-judge anak dengan cacian. Tapi bisa lebih fokus untuk memotivasi anak dengan mengajarkan bahwa proses lebih penting daripada sekedar menang atau kalah. Ajarkan mereka juga sehingga mereka selalu melakukan yang terbaik di segala hal sehingga mereka selalu memiliki pertanyaan,"Am I already done my best?"


Well, poin-poin ini bisa berlaku untuk kita semua loh. Gak cuma untuk anak-anak saja. Contoh simplenya nih kita punya pacar, lalu pacar kita selingkuh sama orang lain. Kita tentu saja sakit hati bukan main. Tapi di sini acceptance bermain penting, guys. I want to remind you once again from point number 3 : you don't always get what you want. Kalau kita bisa menerimanya dengan besar hati, gak akan tuh kita denger lagi berita-berita mengerikan di media seperti "Sakit hati, pria bunuh mantan pacarnya." Jadi, let it goYou deserve another one that is better than her/him. 

Lagipula Tuhan telah menyediakan segala sesuatunya baik untuk kita. Jadi, buat yang mungkin lagi merasa selalu "kalah" atau belum mendapatkan yang diinginkan. Sabar aja. Mungkin Tuhan sedang sibuk banget jadi skenario yang dia tulis buat kita belum kelar. Segala sesuatu akan indah pada waktu-Nya. Have faith!

Sekian ke-sotoy-an hari ini. Semoga bisa jadi inspirasi dan pelajaran untuk kita semua :)

No comments:

Post a Comment